Hukum Puasanya Orang fiqun
Hukum Puasanya Orang fiqun
Pena : Muizadzikri
Assalamu alaikum izin tanya ,,,
Deskripsi Masalah
Orang sudah tua ,malah sudah fikun ( sudah hilang kesadaran nya sebagian) atau lali
di dalam bulan puasa dia puasa katanya ,tapi baru jam 7 atau jam 9 ,,,dia sudah buka puasa ,karna dia fikir sudah magrib atau sudah waktunya buka puasa,
Pertanyaan :
Puasa nya itu apakah harus di fidyahin atau gimna ?
Jawaban:
Waalaikumsalaam warahmatullah ,
Seseorang yang pikun nya sudah parah , misalnya sampai tidak ingat nama , tidak ingat anak, sudah tidak nyambung kalau di ajak bicara, ini masuk kategori nya goiru mukallaf , tidak terkena taklif puasa . Dan tidak perlu qodo .juga tidak perlu fidyah , hanya saja selama masih hidup dari romadhon sampai Syawal, maka wajib di keluarkn zakat fitrah nya .
Untuk yg pikun nya jarang jarang kadang malah ingatan nya normal, namun kadang kambuh sehingga tiba tiba buka puasa di siang hari,dan trus berulang seperti itu karena berkurang daya ingat nya, maka bayar pakai fidyah . Karena mengingat daya ingat nya yg dari tahun ke tahun biasa nya orang tua makin menurun daya ingat nya , dan secara medis sulit kembali seperti sedia kala, maka ini di samakan dengan orang sakit yg sudah tidak ada harapan sembuh , jadi bayar fidyah , bukan qodo.
Referensi
- Fathul Mu'in Hamisy I'anatut Tholibin II / 242 - 243
ـ (و) يجبُ (علـى مَن أفطَرَ) فـي رمضان (لِعُذرٍ لا يُرْجَى زَوالُه) كَكِبَرٍ ومرَضٍ لا يُرْجى بَرْؤُه: (مدّ) لِكلّ يَوْمٍ مِنه إن كان مُوسراً حينئذ (بلا قضاء) وإن قَدِرَ علـيه بعد، لأنه غير مخاطَبٍ بـالصّومِ
ـ (و) يجبُ (علـى مَن أفطَرَ) فـي رمضان (لِعُذرٍ لا يُرْجَى زَوالُه) كَكِبَرٍ ومرَضٍ لا يُرْجى بَرْؤُه: (مدّ) لِكلّ يَوْمٍ مِنه إن كان مُوسراً حينئذ (بلا قضاء) وإن قَدِرَ علـيه بعد، لأنه غير مخاطَبٍ بـالصّومِ
Bagi orang yang berbuka puasa di bulan Ramadan karena alasan yang tidak dapat disembuhkan, seperti usia lanjut atau penyakit yang sulit disembuhkan, maka diwajibkan membayar fidyah (tebusan) untuk setiap hari yang ia lewatkan. Jika ia mampu secara finansial, maka ia harus membayar fidyah tanpa perlu mengganti puasa itu di kemudian hari. Hal ini karena orang tersebut tidak diwajibkan untuk berpuasa.
Fathul Mu'in Hamisy I'anatut Tholibin II / 220
وإنـما يجِبُ صَوْمُ رَمَضانَ (علـى) كل مُكلِّفٍ ــــ أي بـالغ ــــ عاقِلٍ، (مُطيقٍ له) أي للصوم حِسّاً، وشَرعاً، فلا يجبُ علـى صَبـيّ، ومـجنونٍ، ولا علـى من لا يُطيقُه ــــ لِكَبِرٍ، أو مَرَضٍ لا يُرْجى بَرْؤه، ويَـلزمهُ مِدّ لكل يوم
وإنـما يجِبُ صَوْمُ رَمَضانَ (علـى) كل مُكلِّفٍ ــــ أي بـالغ ــــ عاقِلٍ، (مُطيقٍ له) أي للصوم حِسّاً، وشَرعاً، فلا يجبُ علـى صَبـيّ، ومـجنونٍ، ولا علـى من لا يُطيقُه ــــ لِكَبِرٍ، أو مَرَضٍ لا يُرْجى بَرْؤه، ويَـلزمهُ مِدّ لكل يوم
Puasa Ramadan wajib bagi setiap orang yang telah baligh (dewasa) dan berakal sehat, serta mampu melakukannya secara fisik dan berdasarkan hukum syariat. Puasa tidak wajib bagi anak-anak, orang yang tidak waras, dan orang yang tidak mampu berpuasa karena faktor usia lanjut atau sakit yang sulit disembuhkan. Orang-orang tersebut wajib membayar fidyah (tebusan) sebesar satu mud (takaran) untuk setiap hari yang ia tidak puasa.
Wa llahu'alam Bhis Showab
Mujawwib
Ustadz Abdullah Sahal Zuhdi Dan
Ustdzah Ai maalili siti Aysah
:
Masya Allah
BalasHapus